Please use this identifier to cite or link to this item: http://digilib.umpalopo.ac.id:8080/jspui/handle/123456789/558
Title: Turnitin Muhammadiyah Pluralis
Other Titles: Relasi Muslim Puritan, Kristen, dan Aluk Todolo dalam Pendidikan Keluarga dan Falsafah Tongkonan
Authors: Pajarianto, Hadi
Issue Date: May-2018
Publisher: Muhammadiyah University Press
Series/Report no.: Cetakan ke-2, Mei 2018;
Abstract: Di Tana Toraja, terdapat tiga komunitas besar sebagai penyangga pluralitas nasional, yakni Muslim, Kristen, dan penganut agama purba Aluk Todolo. Selain Muslim dan Kristen sebagai agama resmi, di Tana Toraja terdapat agama lokal Aluk Todolo. Hingga saat ini, orang Toraja baik yang beragama Islam dan Kristen masih mempertahankan kepercayaan asli Aluk Todolo, sebagai ajaran yang berupa tradisi, kebiasaan, dan aturan dalam masyarakat Toraja. Dalam perkembangannya, Aluk Todolo sebagai agama lokal orang Toraja dikonversi ke dalam agama Hindu. Menurut Barret (2003), istilah agama lokal dapat dimaknai sama dengan terminologi agama asli atau agama pribumi. Agama lokal lahir, tumbuh dan berkembang bersama eksistensi suatu suku tertentu, dan menjadi pedoman pada setiap aspek kehidupan suku yang menganut agama tersebut, sehingga dapat juga disebut agama suku. Biasanya, agama suku hadir terlebih dahulu, jauh sebelum agama “besar” dunia hadir dan dianut oleh suku tersebut. Kajian tentang penguatan konvergensi antar kelompok yang berbeda di seluruh belahan nusantara harus terus dilakukan, mengingat angka kekerasan terhadap kebebasan beragama dan berkeyakinan masih tinggi. Sejak tahun 2008, The Wahid Institut adalah salah satu lembaga yang fokus melakukan riset mengenai praktik dan dinamika kebebasan beragama dan berkeyakinan. Pada tahun 2015, The Wahid Institut melaporkan adanya fluktuasi dinamika praktik kebebasan beragama dan berkeyakinan (KBB) di Tanah Air. Ada praktik yang menunjukkan adanya peningkatan intoleransi terhadap KKB, dan penurunan pada beberapa daerah di Indonesia. Pada tahun 2015, tercatat 190 peristiwa dengan 249 tindakan pelanggaran. Kekerasan fisik sudah mulai berkurang, dan mengambil pola lain, misalnya dengan menempuh jalur hukum. Pada 2016, terjadi 204 peristiwa dengan 313 tindakan pelanggaran KBB. Sementara 2015, tercatat 190 peristiwa dengan 249 tindakan pelanggaran. Dibanding tahun 2015, jumlah pelanggaran tahun 2016 meningkat tujuh persen.
URI: http://digilib.umpalopo.ac.id:8080/jspui/handle/123456789/558
ISBN: 978-602-361-119-5
Appears in Collections:General

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
Turnitin_Buku Muhammadiyah Pluralis.pdfTurnitin_Buku Muhammadiyah Pluralis19.78 MBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.